Prosedur Adrenalektomi yang Perlu Diketahui

Merupakan sebuah prosedur pengangkatan kelenjar adrenal, bisa pada salah satu atau kedua kelenjar sekaligus. Prosedur operasi ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah dan dinamakan sebagai adrenalektomi. Kelenjar adrenal merupakan salah satu kelenjar kecil yang terletak tepat di bagian atas ginjal.

Fungsi kelenjar ini adalah menghasilkan hormon yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti mengatur metabolisme, sistem imun, tekanan darah hingga kadar gula darah, pada sebagian orang, sel-sel dari kelenjar adrenal tumbuh secara tidak normal atau abnormal dan tak terkendali yang berujung pada munculnya tumor.

Prosedur Adrenalektomi

Sebagai akibat dari tumbuhnya sel secara tidak normal berakibat pada produksi hormon yang meningkat dan bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Untuk menangani masalah gangguan kesehatan ini, seseorang perlu melakukan prosedur pengangkatan kelenjar adrenal dan sangat mungkin dianjurkan oleh dokter dengan beberapa kondisi berikut ini.

  • Munculnya tumor kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon berlebih dengan ukuran besar, misalnya seperti berdiameter lebih dari empat hingga lima centimeter.
  • Tumor kelenjar adrenal bersifat ganas atau dikenal dengan nama kanker atau juga tumor yang dicurigai bisa menjadi ganas.
  • Kanker pada bagian tubuh lain yang menyebar ke kelenjar adrenal, contohnya seperti dari paru-paru ke ginjal.

Beberapa persiapan pun harus dilakukan sebelum masuk dalam prosedur operasi, seperti melakukan diskusi terlebih dahulu dengan dokter mengenai risiko dan manfaat dari proses operasi. Lalu pasien harus memberitahu dokter mengenai obat-obatan yang rutin dikonsumsi, dokter kemungkinan akan meminta pasien berhenti mengonsumsi obat tersebut, selain itu pasien juga harus berpuasa.

Terdapat empat metode yang harus dilakukan dalam prosedur operasi ini, dokter akan kembali berdiskusi dengan pasien untuk menentukan jenis yang terbaik untuk pasien. Hal ini didasarkan pada ukuran dan tipe tumor kelenjar adrenal yang muncul dan kondisi kesehatan pasien secara umum, berikut di antaranya.

  • Operasi laparoskopi, merupakan operasi minimal invasif yang bida dipilih untuk menangani tumor adrenal dalam ukuran kecil.
  • Posterior retroperitoneoscopic adrenalectomy (PRA) juga merupakan operasi minimal invasif dilakukan dengan membuat sayatan kecil di punggung pasien untuk mengangkat kelenjar adrenal.
  • Bedah terbuka, operasi ini dipilih jika tumor kelenjar adrenal berukuran besar atau tumor bersifat ganas.
  • Krioblasi, proses ini menggunakan senyawa kimia untuk membekukan dan menghancurkan tumor, prosedur ini dipilih untuk menangani tumor kelenjar adrenal berukuran kecil.

Setelah melakukan proses operasi terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, pasien mungkin akan merasa nyeri yang muncul di sekitar area bekas sayatan. Kemudian, waktu penyembuhan pasca operasi juga terbilang bervariasi. Namun pada umumnya, seseorang bisa kembali beraktivitas secara normal kembali dalam dua hingga enam minggu.

Selain itu, seperti tindakan medis umum yang lainnya, adrenalektomi juga memiliki risiko komplikasi, bisa dalam bentuk luka ringan, sedang hingga cukup parah. Jika pasien khawatir dengan risiko komplikasi yang muncul bisa melakukan diskusi terlebih dahulu dengan dokter, berikut ini beberapa risiko yang mungkin dialami setelah melakukan operasi.

  • Munculnya infeksi.
  • Munculnya perdarahan
  • Reaksi alergi, seperti misalnya karena terkena obat bius.
  • Mengalami cedera pada organ di sekitar kelenjar.
  • Mengalami hernia.

Sebelum melakukan operasi, pada umumnya dokter akan memberikan anestesi bisa berupa bisu lokal atau bius umum. Hal ini membuat pasien tidak akan merasa sakit selama operasi berlangsung, sementara itu operasi dilakukan hanya untuk mengangkat tumor, tetapi juga bisa untuk mengangkat kelenjar adrenal sekaligus.

Read More Penyakit

10 Obat Tradisional untuk Sembuhkan Demam Berdarah

Bukan rahasia umum lagi jika demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang banyak memakan korban jiwa di Indonesia. Berbagai cara ditempuh untuk mengatasi penyakit ini, tak hanya dengan penanganan medis tetapi juga konsumsi obat demam berdarah. Salah satunya jambu biji yang memiliki kandungan yang terbukti bisa mengatasi DBD.

Selain jambu biji, ternyata terdapat beberapa jenis tanaman lain yang terbukti ampuh melawan penyakit demam berdarah. Menariknya, berbagai jenis tanaman ini juga merupakan bahan dari pembuatan jamu. Sehingga tak perlu susah-susah mencari karena dapat dengan mudah ditemukan di sekitar lingkunan.

Obat Demam Berdarah Dengue (DBD)

  1. Sambiloto

Memiliki nama latin Andrographis paniculata, dikenal banyak orang sebagai bahan jamu dalam kebudayaan Indonesia, terutama di Jawa. Jenis tanaman ini dikenal karena cita rasanya yang sangat pahit. Ekstrak metanol pada tanaman ini mampu menjadi penghambat dan antivirus tertinggi pada salah satu serotipe dengue.

  • Pepaya

Yang dimanfaatkan dari pepaya sebagai obat untuk demam berdarah adalah daunnya, karena memiliki potensi mematikan DBD. Hasil penelitian menyebut bahwa ekstrak berair daun pepaya menunjukkan aktivitas potensial terhadap DBD dengan peningkatan jumlah trombosit, sel darah putih dan neutrofil setelah lima hari pemberian ekstrak daun pepaya.

  • Bakau

Sifat anti demam berdarah berasal dari ekstrak etanol pohon bakau yang diketahui di dalam sel vero, ditandai dengan aktivitas penghambatan dan partikel virus yang tidak aktif. Pohon bakau sangat mudah ditemui di Indonesia karena manfaatnya yang banyak terutama di daerah pesisir pantai.

  • Pare

Merupakan salah satu jenis sayuran yang dikenal dengan rasa pahitnya dan kerap diolah menjadi masakan oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini ternyata juga mampu dimanfaatkan sebagai obat DBD, berasal dari ekstrak metanol tanaman ini, menunjukkan dampak penghambatan demam berdarah setelah uji antivirus berdasarkan efek sitopatik.

  • Patikan Kebo

Bisa dibilang tanaman ini sangat asing bagi kebanyakan orang meskipun sangat mudah ditemui karena merupakan jenis rumput yang umum di Indonesia. Tanaman ini bahkan dianggap gulma di kebun, di Filipina air rebusan patikan kebo dikenal sebagai obat tradisional yang sangat manjur untuk mengobati DBD.

  • Petai China

Juga dikenal dengan nama lamtoro, merupakan salah satu jenis tanaman yang sangat sering ditemui di Indonesia. Tanaman ini berkhasiat melawan DBD dengan galaktomanan yang sudah diektrasi sebelumnya dari biji petai china. Bahan tersebut terbukti menunjukkan aktivitas melawan virus demam kuning dan serotip demam berdarah.

  • Ruku-ruku

Bagi masyarakat Minangkabau mungkin sudah tidak asing lagi dengan jenis tanaman ini, biasanya daun ruku-ruku digunakan sebagai bumbu dalam memasak gulai Minangkabau. Digunakan karena bau wanginya yang khas, sementara penelitian menyebut air rebusan daun ini efektif mencegah demam berdarah.

  • Cabai Jawa

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air cabai Jawa mampu meningkatkan aktivitas tinggi terhadap larva nyamuk. Tanaman ini juga dikenal sebagai cabai jamu, biasanya diuntai dan dikeringkan, ekstrak etanol dari cabai Jawa menunjukkan aktivitas partikel virus yang tidak aktif.

  • Amis-amisan

Tanaman ini juga dianggap seperti Patikan Kebo yakni sebagai rumput liar karena bisa hidup di berbagai jenis tanah. Namun, ekstrak etanol dari amis-amisan memperlihatkan aktivitas anti-dengue dengan cari 40 persen penghambatan terhadap DENV-2.

  1. Temu Kunci

Temu kunci atau juga dikenal dengan jahe China merupakan bahan rempah selanjutnya yang bisa digunakan sebagai obat demam berdarah. Aktivitas senyawa yang diektraksi dari temu kunci mampu menghambat protease virus yang juga telah diuji pada DENV-2.

Read More Penyakit

Perawatan dan Pencegahan Floaters

Floaters mata adalah bintik atau titik pada penglihatan seseorang. Floaters akan tampak melayang atau mengapung menjauh saat seseorang ingin melihatnya langsung. Floaters terbentuk di daerah vitreous pada mata, dan merupakan suatu kondisi yang biasa atau normal terjadi. Daerah vitreous adalah bagian seperti gel yang mengisi mata. Pada umumnya, floaters tidak membutuhkan perawatan karena sifatnya yang tidak membahayakan pandangan. Namun, dalam beberapa kasus, floaters dapat membuat seseorang kesulitan dalam melihat dan membutuhkan pembersihan untuk mengembalikan kemampuan melihat.

Penyebab Floaters

Floaters mata merupakan fenomena alami yang terjadi pada bagian vitreous pada mata. Vitreous inilah yang menyebabkan mata memiliki bentuk bulat. Floaters terjadi saat tubuh vitreous mulai menyusut. Saat hal ini terjadi, serat-serat kecil akan terlepas atau dokter biasa menyebutnya sebagai detasemen vitreous. Detasemen ini menyebabkan kumpulan serpihan yang dapat mengganggu cahaya untuk masuk ke dalam mata. Serpihan tersebut akan membentuk bayangan, yang menyebabkan floaters terlihat. Floaters mata merupakan hal yang normal terjadi pada seseorang dengan bertambahnya usia. Perkumpulan Ahli Retina Amerika menyatakan bahwa detasemen vitreous, yang menyebabkan banyak floaters, umum terjadi pada mereka yang berusia di atas 60 tahun. Semua orang dapat memiliki floaters, dan banyak pula yang mengabaikannya. Kebanyakan orang baru akan menyadari memiliki floaters saat mereka melihat permukaan yang kosong dan terang seperti langit. Pada awalnya, floaters dapat mengganggu penglihatan dan aktivitas. Namun, kebanyakan floaters akan mengendap di bagian bawah mata, di bawah bidang visi. Meskipun demikian, Perkumpulan Ahli Retina Amerika merekomendasikan mereka yang tiba-tiba memiliki gejala floaters untuk memeriksakan mata ke dokter mata pada beberapa bulan pertama setelah gejala timbul, untuk memastikan adanya gangguan kesehatan lebih serius atau tidak.

Perawatan floaters

Kebanyakan kasus floaters tidak membutuhkan perawatan. Floaters biasanya hanya berupa gangguan kecil pada mereka yang memiliki tubuh sehat, dan jarang menjadi penanda masalah kesehatan yang lebih serius. Apabila floaters mengganggu pandangan Anda, gerakkan mata Anda dari kiri ke kanan, atas ke bawah untuk menggerakan serpihan. Saat cairan di dalam mata bergerak, floaters juga akan ikut bergerak. Akan tetapi, floaters dapat merusak penglihatan Anda, terutama apabila kondisinya semakin memburuk. Apabila hal ini terjadi, dokter mungkin akan merekomendasikan perawatan dalam bentuk operasi dan pembersihan menggunakan metode laser.

Pada perawatan laser, dokter mata menggunakan laser untuk menghancurkan floaters dan membuatnya tidak terlihat pada bidang visi. Metode laser ini tidak banyak digunakan karena dianggap eksperimental dan memiliki risiko kerusakan retina. Untuk perawatan berupa operasi, dokter mata akan vitreous dalam sebuah prosedur yang disebut dengan vitrectomy. Setelah vitreous dibersihkank, mata akan diisi dengan larutan garam steril untuk menjaga mata tetap dalam bentuk alaminya. Seiring berjalannya waktu, tubuh akan mengganti larutan garam steril tersebut dengan cairan alaminya. Vitrectomy mungkin tidak akan membersihkan semua floaters, dan tidak akan mencegah floaters terbentuk. Prosedur ini juga dianggap sangat berisiko karena dapat merusak atau membuat retina sobek dan berdarah.

Pencegahan floaters

Karena sifatnya yang terbentuk akibat bertambahnya usia, tidak ada metode khusus untuk mencegah terjadinya floaters. Namun, Anda masih bisa memastikan floaters bukan berasal dari masalah kesehatan yang lebih serius. Apabila Anda melihat terdapat floaters pada pandangan Anda, segera hubungi dokter mata untuk memastikan floaters buan gejala atau tanda-tanda kondisi kesehatan yang lebih serius yang dapat merusak penglihatan Anda.

Read More Penyakit

Hati-Hati, Ini Dia Bakteri Penyebab Keracunan Makanan dan Potensi Asalnya

1. Salmonella: Makanan Olahan Unggas dan Telur
Bakteri Salmonella dapat berpotensi mencemari makanan dari bahan apapun, dan risiko terbesar ada pada makanan dari produk-produk hewani karena biasanya mendapatkan kontak dengan kotoran hewan. Pada ayam, bakteri ini dapat menginfeksi telur sebelum kulitnya terbentuk. Jangan heran jika telur yang bersih dan segar dapat mengandung salmonella di dalamnya. Gejala dari infeksi bakteri Salmonella meliputi kram perut, demam, dan diare 12 hingga 72 jam setelah paparan. Jika terinfeksi bakteri ini, biasanya gejala akan terasa dan berlangsung selama 4 hingga 7 hari.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak makanan dari bahan daging hewan dan telur hingga matang sempurna. Pastikan untuk selalu memasak daging unggas dengan suhu sekitar 75 C. Selain itu, pastikan untuk selalu memisahkan penyimpanan daging unggas mentah dan daging unggas matang serta makanan lainnya. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan, talenan, perkakas dapur, dan meja dapur setelah memasak.

2. Salmonella: Makanan Olahan
Keripik, sup, selai kacang, bahkan makanan beku dapat berpotensi menjadi media infeksi dari bakteri Salmonella. Sebuah wabah Salmonella terjadi pada beragam produk makanan olahan, seperti selai kacang dan beragam makanan kemasan yang dibuat dengan bahan kacang tanah, termasuk granola bar dan kue. Dalam kasus seperti ini, bakteri salmonella sudah berada dari pabrik pengolahan dan telah mencemari banyak produk. Jika ini terjadi, biasanya semua produk yang ada di pasaran akan ditarik kembali.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk mengonsumsi produk makanan olahan yang telah ditarik dari peredaran. Selain itu, Anda juga dapat mencoba mematikan bakteri dengan memanaskan makanan dengan suhu 75 C.

3. E. coli: Daging Sapi Giling
E. coli hidup di usus sapi dan dapat mencemari daging sapi saat berada dalam proses pemotongan. Diantara semua jenis daging, daging sapi giling sangat berisiko karena bakteri dapat menyebar ketika daging digiling. Gejala infeksi E. coli dapat berupa kram perut parah, diare encer, dan muntah. Penyakit ini biasanya berkembang beberapa hari setelah paparan dan bisa menjadi sangat parah jika terjangkit pada orang yang rentan. Sakit yang disebabkan infeksi E. coli biasanya berlangsung sekitar seminggu.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak daging dengan saksama dan matang sempurna. Selain itu, jangan menyatukan penyimpanan daging yang sudah dimasak dengan daging mentah. Tidak lupa, selalu cuci peralatan masak, termasuk termometer daging, dengan air sabun yang hangat.

4. E. coli: Jus dan Susu Mentah

Pasteurisasi untuk produk olahan susu dan minuman kemasan merupakan proses yang sangatlah penting karena dengan memanaskan produk minuman dan susu, bakteri yang ada di dalamnya dapat mati. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan untuk beragam produk minuman kemasan yang dijual di toko. Namun, tidak untuk beberapa produk susu, jus, dan sari buah yang dijual di peternakan, stand, atau di toko makanan kesehatan. Semua toko tempat tersebut berisiko menjual produk yang masih mengandung E. coli.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu membeli produk minuman yang telah dipasteurisasi. Jika Anda tidak yakin, Anda dapat merebusnya terlebih dahulu sebelum minum.

5. Botulisme: Makanan Kaleng
Botulisme adalah penyakit langka dan dapat berpotensi fatal yang dapat menginfeksi melalui makanan kaleng, baik yang tidak diawetkan atau diawetkan. Makanan dalam kaleng sangat berisiko, termasuk madu, daging, dan ikan meskipun sudah melalui tahapan pengasapan, fermentasi atau pengasinan. Itu sebabnya, pastikan untuk selalui memasak kembali semua makanan kaleng agar bakteri bisa mati. Jika terinfeksi, gejala yang akan muncul cukup beragam, mulai dari kram, muntah, masalah pernapasan, kesulitan menelan, penglihatan buram, hingga otot melemah atau kelumpuhan. Jika Anda mencurigai keracunan botulisme, segera hubungi dokter.

Untuk menghindarinya, jangan pernah memberi madu kepada anak di bawah 12 bulan. Buang kaleng yang menggembung, bocor, atau segala kondisi kerusakan kaleng. Sterilkan makanan kaleng di rumah dengan memasaknya pada 120 C selama 30 menit.

6. C. Perfringens: Daging, Rebusan, dan Saus
Clostridium perfringens adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan kram dan diare yang berlangsung selama kurang dari 24 jam. Rebusan, saus, dan makanan lain yang disiapkan dalam jumlah besar dan terus dihangatkan untuk waktu yang lama sebelum disajikan adalah media yang umum untuk infeksi C. perfringens.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk masakan berupa saus, rebusan, dan semur harus selalu dimasak dengan matang dan disimpan pada suhu di atas 60 C atau di bawah 5 C. Sajikan makanan panas sesegera mungkin setelah dimasak. Jika tersisa. Segera dinginkan dalam wadah dangkal untuk memungkinkan pendinginan yang menyeluruh.

7. Hepatitis A: Penanganan Makanan Salah
Hepatitis A adalah virus yang menyerang hati dan dapat mengakibatkan gejala demam, kelelahan, mual, penurunan berat badan, dan diikuti dengan munculnya penyakit kuning. Kebanyakan dari infeksi virus ini masuk dalam kategori ringan. Virus ini dapat menyebar ketika orang yang terinfeksi tidak mencuci tangan dengan benar, kemudian menyentuh makanan atau barang yang dimasukkan ke dalam mulut.

Untuk menghindarinya, Anda dapat mendapatkan vaksinasi untuk virus hepatitis A, khususnya jika Anda akan bepergian ke negara/tempat di mana hepatitis A adalah menjadi virus yang banyak menjangkit orang-orang di sana. Periksa pula penilaian kesehatan untuk restoran. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan sampai bersih sebelum memegang makanan.

8. Vibrio vulnificus: Kerang Mentah
Vibrio vulnificus adalah bakteri yang hidup di air laut hangat dan kerap kali mencemari kerang, khususnya kerang jenis tiram. Infeksi V. vulnificus menyebabkan gejala gastrointestinal yang sama dengan banyak penyakit bawaan makanan lainnya. Namun, pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah, infeksi ini dapat berkembang menjadi infeksi darah yang mengancam jiwa.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk tidak memakan kerang yang dimakan mentah dan selalu pastikan untuk memasak kerang hingga matang. Anda dapat menggoreng, memanggang, merebus, dan mengukus untuk mengurangi risiko infeksi. Jangan lupa, buang kerang yang tidak terbuka saat dimasak.

9. Keracunan Ciguatera: Ikan
Infeksi ini berkembang dari memakan ikan karang seperti kerapu atau kakap yang telah mengonsumsi beberapa jenis ganggang laut. Gejala biasanya akan timbul dalam waktu 6 jam setelah terpapar dan dapat mencakup:

  • Kesemutan, terbakar, atau rasa sakit di lengan atau kaki
  • Sakit kepala
  • Mual, muntah
  • Diare
  • Halusinasi
  • Berkurangnya kemampuan indera perasa (benda dingin terasa panas, benda panas terasa dingin)

Tidak ada obat untuk kasus keracunan ciguatera. Akan tetapi, meskipun dapat hilang setelah berhari-hari atau berminggu-minggu, gejala neurologis terkadang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

10. Listeria: Buah dan Sayuran Mentah
Bakteri Listeria menyebabkan infeksi yang dapat mempengaruhi seluruh tubuh dan menjadi sangat berbahaya bagi wanita hamil dan bayi baru lahir. Bakteri ini dapat mencemari produk segar, seperti buah-buahan dan sayuran, serta beberapa makanan olahan, seperti keju. Gejala-gejala infeksi dapat berupa demam, otot sakit, sakit perut, atau diare, yang biasanya muncul 4 hingga 10 hari setelah paparan.

Untuk menghindari, Bilas produk mentah dengan air dan keringkan sebelum dipotong. Simpan dalam lemari es dengan suhu di bawah 5 C. Pisahkan penyimpanan buah dan sayuran yang sudah dibersihkan dari buah dan sayuran yang masih belum dibersihkan. Hindari juga mengonsumsi keju lunak yang tidak dipasteurisasi.

Referensi:

https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/ss/slideshow-food-poisoning-dangers
Read More Penyakit

Musik dan Kesehatan Jantung

Apa lagu favorit Anda? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi. Sebab menurut Brian Harris, terapis musik neurologis bersertifikat di Rumah Sakit Rehabilitasi Spaulding yang berafiliasi dengan Harvard University Amerika Serikat, mendengarkan musik dapat membantu meningkatkan kesehatan dan suasana hati Anda.

Mendengarkan musik melibatkan banyak bagian otak, termasuk area yang bertugas untuk gerakan, bahasa, memori, konsentrasi dan emosi. Tidak ada stimulus lain yang secara bersamaan dapat melibatkan seluruh bagian otak, selain musik.

Penelitian tentang Manfaat Mendengarkan Musik

Secara mengejutkan, musik dapat mengubah kimia otak yang mendukung kesehatan jantung. Berdasarkan tes yang dilakukan oleh peneliti, manfaat mendengarkan musik bagi jantung adalah:

  • Memungkinkan seseorang berolahraga lebih lama selama tes tekanan jantung dilakukan pada sepeda treadmill
  • Memperbaiki fungsi pembuluh darah dengan mengendurkan otot saraf arteri
  • Membantu denyut jantung dan tingkat tekanan darah untuk kembali ke baseline lebih cepat, setelah beraktivitas fisik
  • Meredakan kecemasan pada korban serangan jantung
  • Membantu pasien yang baru sembuh dari operasi jantung, untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan

Musik Picu Kebahagiaan

Mendengarkan atau menciptakan musik dapat memicu rasa bahagia, karena melepaskan hormon senyawa otak berupa dopamin. Zat kimia otak ini membuat seseorang bersemangat dan termotivasi.

Pemrosesan indera pendengaran dimulai dari batang otak, yang sekaligus mengontrol laju detak jantung dan pernapasan. Hubungan inilah yang menjelaskan alasan musik berirama lambat dapat menurunkan detak jantung, laju pernapasan dan tekanan darah. Selain itu, musik yang lembut juga dapat meringankan rasa stres, nyeri, maupun cemas.

Musik Apa yang Cocok untuk Anda?

Bicara tentang musik favorit, tentu kembali pada selera masing-masing individu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa musik yang dipilih oleh pasien sendiri menunjukkan dampak yang lebih signifikan, daripada pilihan orang lain.

Menurut American Music Therapy Association, musik dapat “memancing” respons otak terhadap rasa aman dan kenyamanan dengan lingkungannya.

Dalam studi tes tekanan jantung yang dilakukan di universitas Texas, sebagian besar peserta tes berdarah Spanyol-Hispanik. Sehingga, para peneliti memilih musik dengan tempo cepat seperti musik Latin.

Sementara itu dalam studi relaksasi arteri, para peneliti menggunakan musik klasik dan musik rock. Ternyata, sebagian besar peserta lebih mampu mendengarkan musik klasik ketimbang musik rock yang hingar-bingar. Musik klasik lebih ramah telinga dan bisa didengarkan untuk memberikan efek ketenangan dan lebih menyenangkan.

Pada dasarnya, tidak ada ruginya bagi Anda untuk mencoba mendengarkan musik, baik untuk relaksasi atau menambah semangat dalam setiap rutinitas berolahraga. Asalkan, Anda menjaga volume musik agar tidak terlalu kencang, dan tetap kisaran yang normal.

Read More Penyakit

Kebiasaan Menyikat Gigi Bisa Cegah Sakit Jantung

Menyikat gigi tidak hanya berguna untuk membuat gigi bersih dan napas segar. Sebuah penelitian mengungkapkan menggosok gigi juga berdampak pada penurunan risiko terhadap serangan jantung. Seperti apa penelitian tersebut, dan bagaimana hasilnya?

Penelitian Libatkan 11.000 Responden

Riset yang bertajuk Scottish Health Survey di Skotlandia menganalisa data dari 11.000 responden. Peneliti mendalami rutinitas responden dalam hal pola hidup, termasuk yang berhubungan dengan merokok, berolahraga, dan kebersihan rongga mulut.

Terkait gigi dan gusi, peneliti menanyakan tentang pemeriksaan gigi yang dijalani responden. Apakah enam bulan sekali, satu hingga dua tahun sekali, atau malah tidak pernah? Peneliti juga mengumpulkan informasi mengenai insensitas responden dalam menyikat gigi. Responden disodorkan pilihan jawaban, mulai dari dua kali sehari, sekali sehari, atau kurang dari itu. Hasilnya, sebanyak 62 persen responden menyatakan rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Sementara itu, 71 persen responden mengatakan menyikat gigi dua kali sehari.

Hasil Riset Disilangkan dengan Penyebab Sakit Jantung

Para peneliti menyilangkan data tersebut dengan faktor penyebab penyakit kardiovaskular. Mulai dari obesitas, merokok, kelas sosial, hingga riwayat penyakit jantung pada keluarga. Hasilnya, orang yang jarang menyikat gigi, berisiko terkena serangan jantung 70 persen lebih tinggi dibandingkan yang rutin menggosok gigi dua kali sehari.

Lewat tes tambahan, orang-orang dengan tingkat kebersihan mulut rendah juga terbukti positif memiliki fibrinogen dan protein C-reaktif. Kondisi ini mengindikasikan adanya penyakit peradangan, seperti rematik dan lupus.

Masih Perlu Penelitian Lanjutan

“Hasil penelitian kami mengonfirmasi dan memperkuat penelitian sebelumnya, tentang hubungan antara kebersihan mulut dan risiko penyakit kardiovaskular,” kata Richard Watt, peneliti Scottish Health Survey dari University College London, Inggris. Sementara itu, dia melanjutkan, adanya tanda-tanda peradangan menunjukkan hubungan yang signifikan dari ketidakhigienisan mulut. Dari penelitian yang dimuat jurnal kesehatan BMJ ini, Watt mengatakan butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan adanya hubungan sebab akibat, antara kebersihan mulut dan penyakit kardiovaskular.

Sejumlah peneliti menduga korelasinya ada pada sistem imunitas tubuh. Malas menggosok gigi merupakan faktor utama pemicu periodontitis–dikenal juga dengan periodontal disease–yaitu infeksi gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Seseorang yang mengalami infeksi ini merasakan ngilu saat mengunyah, mengalami peradangan, dan gusi berdarah. Infeksi tersebut membuat sistem imun tubuh terus menerus bekerja. Beban kerja yang terus bertambah itu membuat tubuh rentan terhadap penyakit lain, termasuk kardiovaskular.

Karang Gigi Picu Banyak Penyakit

Plak yang menumpuk, menjadi karang gigi pada orang yang jarang menyikat gigi, juga bisa jadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Bakteri yang berkembang biak di plak menghasilkan zat asam. Sistem kekebalan tubuh meresponsnya sebagai zat asing yang harus dinetralisir. Membiarkan plak lama-lama bersarang di rongga mulut membuat sistem imun bekerja panjang. Ibarat mobil yang terus-menerus dipacu tanpa henti, pasti akan terjadi kerusakan. Serupa halnya dengan tubuh manusia. Sistem imun yang diforsir bekerja terus, bisa memicu peradangan dan penyakit.

Sembari menunggu penelitian untuk memastikan korelasi antara kebersihan mulut dan kesehatan jantung, kita bisa melakukan sesuatu yang pasti berguna, yaitu menyikat gigi minimal dua kali sehari.

Read More Penyakit

Agar Selalu Sehat, 5 Cara Ini Dapat Membantu Menjauhkan Tubuh Dari Penyakit

Flu, batuk, dan pilek merupakan jenis-jenis penyakit yang mudah sekali untuk menular. Apalagi untuk Anda yang sering berada di tempat publik, seperti kendaraan umum misalnya. Tidak hanya itu, penyakit seperti diare dan cacar air juga mudah sekali untuk menyebar. Bahkan virus dan bakteri dapat dengan mudah tertular meskipun orang yang menularkan belum menunjukkan gejala.

Perlu dipahami, penyakit dapat menyebar dengan banyak cara. Mulai dari saat Anda menghirup kuman ketika seseorang berbicara, batuk, dan bersin, atau saat Anda menyentuh seseorang yang sedang sakit cacar air. Mengingat kuman, bakteri, dan virus ada di mana-mana, lakukanlah lima langkah mudah ini untuk membantu menjaga keluarga Anda terhindar dari infeksi penyakit.

Lakukan Imunisasi
Pahami pentingnya mencegah daripada mengobati. Itulah sebabnya, imunisasi merupakan hal penting yang harus Anda lakukan untuk mencegah beragam penyakit yang berisiko menyerang. Pastikan keluarga Anda mendapat informasi terbaru tentang vaksinasi yang dibutuhkan mereka.

Untuk anak-anak, ikuti arahan dokter dan puskesmas untuk pemberian imunisasi yang sudah ditentukan. Bagi orang dewasa, pastikan untuk segera mendapatkan vaksin booster tetanus/diphtheria/pertussis (yang juga disebut Tdap) jika mereka belum mendapatkannya. Selanjutnya, orang yang berusia di atas 60 tahun harus mendapat suntikan untuk mencegah sinanaga. Sementara, untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas harus mendapat dua suntikan pneumonia.

Anda juga perlu ingat bahwa vaksinasi dilakukan bukan sebagai bentuk peningkatan daya tahan tubuh saja, melainkan juga sebagai upaya mengurangi peluang bagi penyakit untuk menyebar.

Cuci Tangan
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyebut mencuci tangan sebagai “do-it-yourself vaccine.” Ini adalah salah satu langkah termudah yang dapat Anda lakukan untuk menghentikan berpindahnya kuman dan bakteri. Berikut ini adalah tata cara cuci tangan dengan tepat dan benar yang perlu Anda pahami

  • Basahi tangan Anda dengan air bersih dan mengalir (hangat atau dingin)
  • Gunakan sabun. Gosokkan kedua tangan Anda selama 20 detik
  • Bilas hingga bersih
  • Keringkan tangan Anda dengan handuk bersih atau biarkan mengering dengan sendirinya
  • Tidak ada sabun dan air mengalir? Gunakan pembersih tangan atau hand saniitizer dengan kandungan alkohol setidaknya 60%

Kapan harus mencuci tangan?

  • Sebelum, selama, dan setelah Anda menyiapkan makanan
  • Sebelum Anda makan
  • Sebelum dan sesudah Anda merawat orang yang sakit
  • Sebelum dan sesudah Anda merawat luka atau luka
  • Setelah Anda menggunakan kamar mandi
  • Setelah Anda mengganti popok anak
  • Setelah Anda menyeka hidung, batuk, atau bersin
  • Setelah Anda menyentuh binatang atau kotorannya
  • Setelah Anda memberi makan hewan peliharaan Anda
  • Setelah Anda menyentuh sampah

Bersihkan Benda yang Sering Disentuh
Tahukah Anda jika kuman dapat tahan berlama-lama pada benda dengan permukaan keras selama berjam-jam atau berhari-hari. Itulah mengapa penting untuk menjaga tempat-tempat seperti pegangan pintu, wastafel, dan keran tetap bersih. Dengan kata lain, pastikan untuk selalu membersihkan remote, pegangan pintu, sakelar lampu, bahkan layar ponsel Anda sesering mungkin.

Gunakan Masker Saat Berada Di Tempat Publik
Saat Anda sedang berada di stasiun, halte, atau di dalam kendaraan umum, pastikan untuk selalu menjaga diri dengan menggunakan masker. Cara ini penting untuk menghindari penularan kuman, bakteri, dan virus dari bersin dan batuk. Pastikan juga untuk selalu menghindari menutup mulut dengan telapak tangan saat bersin dan batuk untuk menghindari kuman berpindah dengan cepat. Anda dapat menggunakan tisu, sapu tangan, atau bagian siku lengan.

Jangan Berbagi Wadah Minum dan Sendok
Terakhir, pastikan untuk selalu menjaga perlengkapan makan dan minummu tetap bersih dan higienis dengan tidak berbagi wadah minum dan makan dengan siapa pun, bahkan dengan keluarga sekalipun. Selain itu, hindari pula menggunakan lip balm atau peralatan makeup bersama-sama. Ingat, salah satu cara tercepat untuk menyebarkan atau menularkan kuman dari orang ke orang adalah melalui mulut.

Itulah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menjauhkan tubuh dari penyakit. Meskipun begitu, bukan menjadi jaminan bahwa dengan melakukannya Anda tidak akan pernah sakit. Namun, yang pasti dengan melakukannya peluang Anda untuk tertular atau menularkan penyakit akan menurun.

Read More Penyakit