Inilah 5 Cara Penanganan Fibrilasi Ventrikel!

Fibrilasi ventrikel adalah gangguan yang menyebabkan jantung kehilangan kemampuannya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini mengakibatkan penurunan bahkan hilangnya cardiac output yang diikuti dengan hipoperfusi jaringan karena kekurangan oksigen, sehingga berakhir dengan iskemia jaringan. Otak dan miokardium adalah jaringan yang paling rentan mengalami ini. Oleh sebab itu, fibrilasi ventrikel yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat, dapat menyebabkan sudden cardiac death (SCD).

Penyebab fibrilasi ventrikel.

Kondisi fibrilasi ventrikel disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak teratur pada jantung, sehingga mengganggu irama jantung. Ritme jantung yang tidak stabil ini akan membuat aliran darah ke seluruh tubuh terhambat, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi untuk jaringan tubuh jadi terganggu. Gangguan ini tidak boleh disepelekan, sebab terlambat sedikit saja penanganannya, dapat berakhir dengan kematian hanya dalam beberapa menit saja.

Gejala awal fibrilasi ventrikel.

Hilang kesadaran adalah gejala umum pada kasus fibrilasi ventrikel. Selain itu, biasanya diawali dengan tanda-tanda berikut.

  • Nyeri dada hebat.
  • Takikardia, yaitu detak jantung terlalu cepat.
  • Pusing.
  • Mual.
  • Sesak napas.

5 Cara penanganan tepat fibrilasi ventrikel.

Penderita fibrilasi ventrikel dapat berakhir dengan henti jantung. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan penanganan yang cepat dan tepat. Pertolongan yang diberikan harus sesuai dengan protokol Advanced Cardiac Life Support (ACLS), agar kemungkinan bertahan hidup penderita lebih besar.

  • Memberikan pertolongan pertama CPR.

Semua pasien dengan henti jantung harus diberikan pertolongan pertama berupa CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) oleh seseorang yang terlatih. Hal ini bertujuan membantu mengalirkan darah melalui tubuh ke organ-organ vital. Berikan tekanan yang keras dan cepat pada bagian dada penderita dengan kecepatan 100 kali per menit. Lanjutkan melakukan CPR sampai bantuan darurat tiba.

  • Menggunakan defibrillator.

Defribillator merupakan alat untuk memberikan sengatan energi listrik tinggi ke jantung seseorang yang mengalami henti jantung. Tegangan energi listrik yang tinggi ini disebut dengan defibrilasi. Dikutip dari NCBI, pasien yang menerima defibrilasi dengan segera menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup lebih tinggi (39,3%) dibandingkan pasien dengan defibrilasi yang tertunda 2 menit atau lebih (22,2%). Umumnya, tegangan yang diberikan sebesar 120-200 J menggunakan biphasic defibrillator atau 360 J menggunakan monophasic defibrillator.

  • Memberikan obat antiritmia.

Dokter akan meresepkan obat epinephrine dan amiodarone sesuai dengan protokol ACLS pada pasien untuk mempertahankan ritme jantung. Amiodarone secara signifikan dapat meningkatkan kelangsungan hidup pasien saat masuk rumah sakit tanpa memengaruhi kelangsungan hidup saat keluar dari rumah sakit.

  • Pemasangan defibrillator implan.

Setelah denyut jantung pasien stabil, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan pemasangan alat defibrillator implan ke jantung. Tujuannya adalah untuk memantau irama jantung. Apabila melambat, maka alat tersebut dapat memberikan sinyal listrik untuk memacu detak jantung.

  • Evaluasi arteri koroner.

Tim medis akan melakukan pengawasan ketat, seperti memantau pernapasan, keseimbangan elektrolit, kebutuhan cairan, serta mengeringkan tamponade jantung sambil menyadarkan pasien. Setelah kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) pada jantung pasien, dokter segera melakukan evaluasi definitif untuk penyakit arteri koroner.

Apabila ditemukan penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah jantung, maka tindakan operasi diperlukan. Prosedur angioplasti koroner akan dilakukan untuk membuka sumbatan pembuluh darah dan menempatkan stent untuk menjaganya tetap terbuka, sehingga darah dapat mengalir kembali ke jantung. 

Pencegahan kasus kematian jantung pada penderita fibrilasi ventrikel perlu dilakukan. Beberapa kasus detak jantung abnormal yang mendapatkan penanganan lebih awal dapat mencegah terjadinya fibrilasi ventrikel. Pemeriksaan dengan alat elektrokardiografi rawat jalan dan monitor jantung implan dianjurkan untuk hal ini, terutama pasien dengan sindrom aritmia karena faktor keturunan. Diskusi dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat dalam mengatasi fibrilasi ventrikel.

Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*