Hati-Hati, Ini Dia Bakteri Penyebab Keracunan Makanan dan Potensi Asalnya

1. Salmonella: Makanan Olahan Unggas dan Telur
Bakteri Salmonella dapat berpotensi mencemari makanan dari bahan apapun, dan risiko terbesar ada pada makanan dari produk-produk hewani karena biasanya mendapatkan kontak dengan kotoran hewan. Pada ayam, bakteri ini dapat menginfeksi telur sebelum kulitnya terbentuk. Jangan heran jika telur yang bersih dan segar dapat mengandung salmonella di dalamnya. Gejala dari infeksi bakteri Salmonella meliputi kram perut, demam, dan diare 12 hingga 72 jam setelah paparan. Jika terinfeksi bakteri ini, biasanya gejala akan terasa dan berlangsung selama 4 hingga 7 hari.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak makanan dari bahan daging hewan dan telur hingga matang sempurna. Pastikan untuk selalu memasak daging unggas dengan suhu sekitar 75 C. Selain itu, pastikan untuk selalu memisahkan penyimpanan daging unggas mentah dan daging unggas matang serta makanan lainnya. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan, talenan, perkakas dapur, dan meja dapur setelah memasak.

2. Salmonella: Makanan Olahan
Keripik, sup, selai kacang, bahkan makanan beku dapat berpotensi menjadi media infeksi dari bakteri Salmonella. Sebuah wabah Salmonella terjadi pada beragam produk makanan olahan, seperti selai kacang dan beragam makanan kemasan yang dibuat dengan bahan kacang tanah, termasuk granola bar dan kue. Dalam kasus seperti ini, bakteri salmonella sudah berada dari pabrik pengolahan dan telah mencemari banyak produk. Jika ini terjadi, biasanya semua produk yang ada di pasaran akan ditarik kembali.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk mengonsumsi produk makanan olahan yang telah ditarik dari peredaran. Selain itu, Anda juga dapat mencoba mematikan bakteri dengan memanaskan makanan dengan suhu 75 C.

3. E. coli: Daging Sapi Giling
E. coli hidup di usus sapi dan dapat mencemari daging sapi saat berada dalam proses pemotongan. Diantara semua jenis daging, daging sapi giling sangat berisiko karena bakteri dapat menyebar ketika daging digiling. Gejala infeksi E. coli dapat berupa kram perut parah, diare encer, dan muntah. Penyakit ini biasanya berkembang beberapa hari setelah paparan dan bisa menjadi sangat parah jika terjangkit pada orang yang rentan. Sakit yang disebabkan infeksi E. coli biasanya berlangsung sekitar seminggu.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak daging dengan saksama dan matang sempurna. Selain itu, jangan menyatukan penyimpanan daging yang sudah dimasak dengan daging mentah. Tidak lupa, selalu cuci peralatan masak, termasuk termometer daging, dengan air sabun yang hangat.

4. E. coli: Jus dan Susu Mentah

Pasteurisasi untuk produk olahan susu dan minuman kemasan merupakan proses yang sangatlah penting karena dengan memanaskan produk minuman dan susu, bakteri yang ada di dalamnya dapat mati. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan untuk beragam produk minuman kemasan yang dijual di toko. Namun, tidak untuk beberapa produk susu, jus, dan sari buah yang dijual di peternakan, stand, atau di toko makanan kesehatan. Semua toko tempat tersebut berisiko menjual produk yang masih mengandung E. coli.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu membeli produk minuman yang telah dipasteurisasi. Jika Anda tidak yakin, Anda dapat merebusnya terlebih dahulu sebelum minum.

5. Botulisme: Makanan Kaleng
Botulisme adalah penyakit langka dan dapat berpotensi fatal yang dapat menginfeksi melalui makanan kaleng, baik yang tidak diawetkan atau diawetkan. Makanan dalam kaleng sangat berisiko, termasuk madu, daging, dan ikan meskipun sudah melalui tahapan pengasapan, fermentasi atau pengasinan. Itu sebabnya, pastikan untuk selalui memasak kembali semua makanan kaleng agar bakteri bisa mati. Jika terinfeksi, gejala yang akan muncul cukup beragam, mulai dari kram, muntah, masalah pernapasan, kesulitan menelan, penglihatan buram, hingga otot melemah atau kelumpuhan. Jika Anda mencurigai keracunan botulisme, segera hubungi dokter.

Untuk menghindarinya, jangan pernah memberi madu kepada anak di bawah 12 bulan. Buang kaleng yang menggembung, bocor, atau segala kondisi kerusakan kaleng. Sterilkan makanan kaleng di rumah dengan memasaknya pada 120 C selama 30 menit.

6. C. Perfringens: Daging, Rebusan, dan Saus
Clostridium perfringens adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan kram dan diare yang berlangsung selama kurang dari 24 jam. Rebusan, saus, dan makanan lain yang disiapkan dalam jumlah besar dan terus dihangatkan untuk waktu yang lama sebelum disajikan adalah media yang umum untuk infeksi C. perfringens.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk masakan berupa saus, rebusan, dan semur harus selalu dimasak dengan matang dan disimpan pada suhu di atas 60 C atau di bawah 5 C. Sajikan makanan panas sesegera mungkin setelah dimasak. Jika tersisa. Segera dinginkan dalam wadah dangkal untuk memungkinkan pendinginan yang menyeluruh.

7. Hepatitis A: Penanganan Makanan Salah
Hepatitis A adalah virus yang menyerang hati dan dapat mengakibatkan gejala demam, kelelahan, mual, penurunan berat badan, dan diikuti dengan munculnya penyakit kuning. Kebanyakan dari infeksi virus ini masuk dalam kategori ringan. Virus ini dapat menyebar ketika orang yang terinfeksi tidak mencuci tangan dengan benar, kemudian menyentuh makanan atau barang yang dimasukkan ke dalam mulut.

Untuk menghindarinya, Anda dapat mendapatkan vaksinasi untuk virus hepatitis A, khususnya jika Anda akan bepergian ke negara/tempat di mana hepatitis A adalah menjadi virus yang banyak menjangkit orang-orang di sana. Periksa pula penilaian kesehatan untuk restoran. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan sampai bersih sebelum memegang makanan.

8. Vibrio vulnificus: Kerang Mentah
Vibrio vulnificus adalah bakteri yang hidup di air laut hangat dan kerap kali mencemari kerang, khususnya kerang jenis tiram. Infeksi V. vulnificus menyebabkan gejala gastrointestinal yang sama dengan banyak penyakit bawaan makanan lainnya. Namun, pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah, infeksi ini dapat berkembang menjadi infeksi darah yang mengancam jiwa.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk tidak memakan kerang yang dimakan mentah dan selalu pastikan untuk memasak kerang hingga matang. Anda dapat menggoreng, memanggang, merebus, dan mengukus untuk mengurangi risiko infeksi. Jangan lupa, buang kerang yang tidak terbuka saat dimasak.

9. Keracunan Ciguatera: Ikan
Infeksi ini berkembang dari memakan ikan karang seperti kerapu atau kakap yang telah mengonsumsi beberapa jenis ganggang laut. Gejala biasanya akan timbul dalam waktu 6 jam setelah terpapar dan dapat mencakup:

  • Kesemutan, terbakar, atau rasa sakit di lengan atau kaki
  • Sakit kepala
  • Mual, muntah
  • Diare
  • Halusinasi
  • Berkurangnya kemampuan indera perasa (benda dingin terasa panas, benda panas terasa dingin)

Tidak ada obat untuk kasus keracunan ciguatera. Akan tetapi, meskipun dapat hilang setelah berhari-hari atau berminggu-minggu, gejala neurologis terkadang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

10. Listeria: Buah dan Sayuran Mentah
Bakteri Listeria menyebabkan infeksi yang dapat mempengaruhi seluruh tubuh dan menjadi sangat berbahaya bagi wanita hamil dan bayi baru lahir. Bakteri ini dapat mencemari produk segar, seperti buah-buahan dan sayuran, serta beberapa makanan olahan, seperti keju. Gejala-gejala infeksi dapat berupa demam, otot sakit, sakit perut, atau diare, yang biasanya muncul 4 hingga 10 hari setelah paparan.

Untuk menghindari, Bilas produk mentah dengan air dan keringkan sebelum dipotong. Simpan dalam lemari es dengan suhu di bawah 5 C. Pisahkan penyimpanan buah dan sayuran yang sudah dibersihkan dari buah dan sayuran yang masih belum dibersihkan. Hindari juga mengonsumsi keju lunak yang tidak dipasteurisasi.

Referensi:

https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/ss/slideshow-food-poisoning-dangers
Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*