Bagi Pria, Hipogonadisme Lebih dari Masalah Seksual

Salah satu fungsi tubuh yang harus dipastikan kondisinya adalah fungsi seksual, karena dari sana kelangsungan riwayat manusia bisa terjaga. Kondisi ini mendapat banyak tantangan. Sebab banyak sekali masalah seksual atau reproduksi, tak terkecuali hipogonadisme, yang bisa diderita manusia.

Hipogonadisme merupakan kondisi medis yang menggangu kinerja kelenjar gonad atau dapat pula disebut kelenjar seksual. Masalah yang terjadi pada kelenjar itu membuat seseorang, baik pria maupun wanita, kekurangan atau bahkan sama sekali tak memiliki cukup hormon seks atau hormon testosteron.

Mereka yang tak memiliki cukup testosteron akan mengalami masalah seksual. Namun, bagi pria, masalah ini bisa berbuntut panjang dan hipogonadisme tak lagi sekadar urusan ranjang belaka.

Dikatakan bahwa defisiensi hormon testosteron membuat pria berpeluang mengalami beberapa penyakit berbahaya. Sebagai hormon seks utama laki-laki, testosteron diperlukan untuk menunjang berbagai mekanisme tubuh. Ketiadaan atau kurangnya hormon itu bisa merusak kinerja beberapa fungsi tubuh sehingga menyebabkan diabetes, serangan jantung, hingga stroke.

Akan tetapi jangan terlalu khawatir, meski kita juga tak boleh menyepelekan hipogonadisme. Laki-laki yang mengalami hipogonadisme mungkin akan mengalami beberapa gejala awal seperti kehilangan gairah seksual hingga disfungsi ereksi. Selanjutnya mereka juga dapat kehilangan massa otot, mengalami kerontokan rambut pada tubuh, serta mengecilnya ukuran testis karena masalah itu.

Adapun terkait penyakit turunan yang mungkin bisa didapat akibat hipogonadisme terjadi lantaran metabolisme di dalam tubuhnya terganggu. Hal ini didasari oleh sebuah penelitian yang menyebut bahwa seorang pria yang kekurangan hormon testosteron, orang tersebut biasanya juga mengalami gangguan sindrom metabolis seperti diabetes melitus dan dislipidemia.

Lebih lanjut, efek metabolis hipogonadisme juga berpotensi menyebabkan penurunan kadar kolesterol baik (HDL) dan penaikan kolesterol jahat (LDL), gangguan metabolisme glukosa, kenaikan kadar lemak, serta penurunan volume sel darah merah. Kondisi inilah yang pada akhirnya dapat memicu masalah-masalah pada jaringan peredaran darah, mulai dari serangan jantung hingga stroke.

Dilihat dari kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa perhatian lebih mengenai hipogonadisme ini amat diperlukan. Laki-laki yang sudah mengalami atau merasakan beberapa gejala awalnya disarankan untuk segera menemui dokter untuk mendapat pertolongan.

Di hadapan medis, seorang pria yang mengeluhkan kondisinya mungkin diharuskan menjalankan serangakain tes dan pemeriksaan terlebih dahulu agar dokter dapat menegakkan diagnosis.

Setelah itu, umumnya mereka akan mendapatkan terapi penggantian testoteron atau TRT melalui beberapa cara, seperti injeksi, patch (tempelan), gel, dan tablet. Penderita bisa juga mendapat suntikan hormon pelepas gonadotropin, untuk memicu pubertas atau meningkatkan produksi sperma.

Meskipun kebanyakan kasus hipogonadisme terjadi pada pria di atas usia 40 tahun, ketika semua sistem dan ketahanan tubuh secara alami mulai menurun, tetapi gangguan ini juga dapat terjadi pada usia muda, di bawah 30 tahun, bahkan sejak lahir. Jadi, masalah tersebut bisa mulai terjadi kapan saja. Bahkan, dari sejak seorang anak berada di dalam kandungan, akibat pertumbuhan testis yang abnormal.

Sayangnya, sebagaimana masalah seksual lainnya, hipogonadisme kerap tidak ditangani dengan benar karena ketidaktahuan masyarakat dan faktor malu. Ketika mengalami masalah disfungsi ereksi yang menjadi tanda utama hipogonadisme, kaum laki-laki kerap malu untuk berkonsultasi dan mencari terapi yang tepat. Padahal, 18% laki-laki penderita disfungsi ereksi mengalami hipogonadisme.

Nah, artikel ini dibuat sebagai tambahan informasi terkait masalah seksual pada laki-laki ini. Bahwa hipogonadisme bukanlah sesuatu yang harus disikapi sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi harus dicari solusinya sedari dini.

Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*