10 Tips Agar Resolusi Hidup Sehat di Tahun Baru Tercapai

Salah satu target yang tidak pernah hilang dari daftar resolusi tahun baru adalah menjalani hidup yang lebih sehat, baik itu dengan menurunkan berat badan, berhenti merokok atau mengurangi kebiasaan minum alkohol. Sayangnya, di pertengahan tahun, kebanyakan orang akan mulai lupa dan goyah dari target yang ingin dicapai.

Meskipun begitu, jangan khawatir karena Anda masih bisa mencapai target-target tahun baru Anda dengan memecah target resolusi menjadi tujuan yang lebih spesifik, terukur dengan tenggat waktu. Berikut ini adalah tips yang bisa Anda coba.

  1. Pastikan untuk Hanya Membuat Sedikit Resolusi

Jangan terlalu banyak membuat daftar keinginan capaian di tahun baru. Peluang untuk berhasil pada resolusi Anda adalah dengan membuat satu atau dua resolusi untuk mengubah perilaku atau kebiasaan buruk, khususnya seputar kesehatan.

2. Jangan Menunggu Sampai Malam Tahun Baru untuk Menentukan Resolusi Anda

Luangkan waktu beberapa hari sebelumnya dan pikirkan apa yang ingin Anda capai. Pertimbangkan dengan matang kemampuan dan kapabilitas Anda dalam menggapai satu target. Pastikan untuk tidak membuatnya terlalu tinggi dan fokuslah pada progres.

3. Hindari Resolusi Sebelumnya

Kembali mengulang resolusi tahun lalu yang gagal akan membuat tahun ini tidak berbeda dengan tahun lalu. Buatlah resolusi yang berbeda dengan misi-misi yang juga fresh agar menambah motivasi baru dalam menjalaninya.

4. Jangan Terbawa dengan Apa yang Banyak Dipikirkan Orang Lain

Cobalah untuk kreatif dan inovatif dengan keinginan dan target hidup Anda sendiri. Dengan begitu Anda tidak akan muda terpengaruh dengan apa yang dilakukan dan dicapai orang lain.

5. Jabarkan Tujuan Anda Menjadi Serangkaian Langkah

Langkah-langkah kecil inilah yang akan menjadi fokus dari progres dan kemajuannya. Jangan pernah memandang target yang masih jauh dari pencapaian, melainkan selalu ukur prestasi Anda dalam menjadi seseorang yang selangkah lebih baik dari tiap capaian. Ciptakan sub-tujuan yang konkret, dapat diukur, dan memiliki tenggat waktu.

6. Beri Tahu Partner dan Teman Anda Tentang Target dan Tujuan Anda

Anda akan mendapatkan lebih banyak motivasi dan dukungan dari kerabat jika membagikannya dengan orang-orang terdekat. Mereka mungkin juga akan menjadi orang-orang yang tidak bosan mengingatkan dan memberikan informasi seputar pencapaian dari tujuan Anda.

7. Agar Tetap Termotivasi, Buatlah Checklist Mengenai Capaian dari Resolusi Anda

Anda dapat menempelnya di depan meja belajar, pintu kamar, atau bahkan memasangnya sebagai wallpaper handphone Anda.

8. Beri Hadiah Kecil Setiap Kali Anda Mencapai Sub-Tujuan Sebagai Bentuk Apresiasi

Cara ini juga dapat membantu dan memotivasi Anda untuk terus berjuang pada progres dan kemajuan.

9. Buatlah Evaluasi untuk Mengetahui Dinamikan Progres yang Anda Lakukan

Anda dapat membuatnya dalam bentuk catatan ringan di buku tulis atau di komputer dengan grafik dan tabel yang jelas.

10. Jangan Pernah Menyerah pada Sebuah Kemunduran

Anggap itu sebagai beberapa langkah ke belakang untuk lompatan dan lari yang lebih cepat, tinggi, dan melesat.

Mulai dari Sekarang
Setelah membaca tips di atas, segera lakukan rancangan resolusi tahun baru Anda untuk hidup yang lebih ideal dan sehat. Anda dapat memulainya dengan beberapa penjabaran target tahun baru dengan langkah-langkah konkretnya, seperti:

  1. Menurunkan berat badan: Cari tips praktis untuk menurunkan berat badan berlebih, Mengubah asupan makanan menjadi lebih sehat dan bergizi, dan Merancang rencana penurunan berat badan dalam 12 minggu.
  2. Berhenti merokok: Cari teman yang telah berhenti merokok untuk konsultasi, Mengunduh aplikasi yang dapat membantu upaya Anda berhenti merokok.
  3. Aktif berolahraga: Tingkatkan kebugaran Anda dengan ide-ide aktivitas yang menyenangkan dan praktis, install aplikasi kebugaran, dan menonton video instruksi lakukan fisik.
  4. Mengurangi asupan alkohol: Hitung frekuensi minum alkohol Anda sebelumnya, cari teman yang dapat memberikan tips untuk mengurangi kebiasaan meinum alkohol, buat target pengurangan minum.
  5. Makan sehat: Mulai kembali memasak makanan sehat untuk keluarga, membuat bekal saat bepergian, membaca buku tentang kesehatan dan gizi.
Read More Hidup Sehat

Hati-Hati, Ini Dia Bakteri Penyebab Keracunan Makanan dan Potensi Asalnya

1. Salmonella: Makanan Olahan Unggas dan Telur
Bakteri Salmonella dapat berpotensi mencemari makanan dari bahan apapun, dan risiko terbesar ada pada makanan dari produk-produk hewani karena biasanya mendapatkan kontak dengan kotoran hewan. Pada ayam, bakteri ini dapat menginfeksi telur sebelum kulitnya terbentuk. Jangan heran jika telur yang bersih dan segar dapat mengandung salmonella di dalamnya. Gejala dari infeksi bakteri Salmonella meliputi kram perut, demam, dan diare 12 hingga 72 jam setelah paparan. Jika terinfeksi bakteri ini, biasanya gejala akan terasa dan berlangsung selama 4 hingga 7 hari.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak makanan dari bahan daging hewan dan telur hingga matang sempurna. Pastikan untuk selalu memasak daging unggas dengan suhu sekitar 75 C. Selain itu, pastikan untuk selalu memisahkan penyimpanan daging unggas mentah dan daging unggas matang serta makanan lainnya. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan, talenan, perkakas dapur, dan meja dapur setelah memasak.

2. Salmonella: Makanan Olahan
Keripik, sup, selai kacang, bahkan makanan beku dapat berpotensi menjadi media infeksi dari bakteri Salmonella. Sebuah wabah Salmonella terjadi pada beragam produk makanan olahan, seperti selai kacang dan beragam makanan kemasan yang dibuat dengan bahan kacang tanah, termasuk granola bar dan kue. Dalam kasus seperti ini, bakteri salmonella sudah berada dari pabrik pengolahan dan telah mencemari banyak produk. Jika ini terjadi, biasanya semua produk yang ada di pasaran akan ditarik kembali.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk mengonsumsi produk makanan olahan yang telah ditarik dari peredaran. Selain itu, Anda juga dapat mencoba mematikan bakteri dengan memanaskan makanan dengan suhu 75 C.

3. E. coli: Daging Sapi Giling
E. coli hidup di usus sapi dan dapat mencemari daging sapi saat berada dalam proses pemotongan. Diantara semua jenis daging, daging sapi giling sangat berisiko karena bakteri dapat menyebar ketika daging digiling. Gejala infeksi E. coli dapat berupa kram perut parah, diare encer, dan muntah. Penyakit ini biasanya berkembang beberapa hari setelah paparan dan bisa menjadi sangat parah jika terjangkit pada orang yang rentan. Sakit yang disebabkan infeksi E. coli biasanya berlangsung sekitar seminggu.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu memasak daging dengan saksama dan matang sempurna. Selain itu, jangan menyatukan penyimpanan daging yang sudah dimasak dengan daging mentah. Tidak lupa, selalu cuci peralatan masak, termasuk termometer daging, dengan air sabun yang hangat.

4. E. coli: Jus dan Susu Mentah

Pasteurisasi untuk produk olahan susu dan minuman kemasan merupakan proses yang sangatlah penting karena dengan memanaskan produk minuman dan susu, bakteri yang ada di dalamnya dapat mati. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan untuk beragam produk minuman kemasan yang dijual di toko. Namun, tidak untuk beberapa produk susu, jus, dan sari buah yang dijual di peternakan, stand, atau di toko makanan kesehatan. Semua toko tempat tersebut berisiko menjual produk yang masih mengandung E. coli.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk selalu membeli produk minuman yang telah dipasteurisasi. Jika Anda tidak yakin, Anda dapat merebusnya terlebih dahulu sebelum minum.

5. Botulisme: Makanan Kaleng
Botulisme adalah penyakit langka dan dapat berpotensi fatal yang dapat menginfeksi melalui makanan kaleng, baik yang tidak diawetkan atau diawetkan. Makanan dalam kaleng sangat berisiko, termasuk madu, daging, dan ikan meskipun sudah melalui tahapan pengasapan, fermentasi atau pengasinan. Itu sebabnya, pastikan untuk selalui memasak kembali semua makanan kaleng agar bakteri bisa mati. Jika terinfeksi, gejala yang akan muncul cukup beragam, mulai dari kram, muntah, masalah pernapasan, kesulitan menelan, penglihatan buram, hingga otot melemah atau kelumpuhan. Jika Anda mencurigai keracunan botulisme, segera hubungi dokter.

Untuk menghindarinya, jangan pernah memberi madu kepada anak di bawah 12 bulan. Buang kaleng yang menggembung, bocor, atau segala kondisi kerusakan kaleng. Sterilkan makanan kaleng di rumah dengan memasaknya pada 120 C selama 30 menit.

6. C. Perfringens: Daging, Rebusan, dan Saus
Clostridium perfringens adalah jenis bakteri yang dapat menyebabkan kram dan diare yang berlangsung selama kurang dari 24 jam. Rebusan, saus, dan makanan lain yang disiapkan dalam jumlah besar dan terus dihangatkan untuk waktu yang lama sebelum disajikan adalah media yang umum untuk infeksi C. perfringens.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk masakan berupa saus, rebusan, dan semur harus selalu dimasak dengan matang dan disimpan pada suhu di atas 60 C atau di bawah 5 C. Sajikan makanan panas sesegera mungkin setelah dimasak. Jika tersisa. Segera dinginkan dalam wadah dangkal untuk memungkinkan pendinginan yang menyeluruh.

7. Hepatitis A: Penanganan Makanan Salah
Hepatitis A adalah virus yang menyerang hati dan dapat mengakibatkan gejala demam, kelelahan, mual, penurunan berat badan, dan diikuti dengan munculnya penyakit kuning. Kebanyakan dari infeksi virus ini masuk dalam kategori ringan. Virus ini dapat menyebar ketika orang yang terinfeksi tidak mencuci tangan dengan benar, kemudian menyentuh makanan atau barang yang dimasukkan ke dalam mulut.

Untuk menghindarinya, Anda dapat mendapatkan vaksinasi untuk virus hepatitis A, khususnya jika Anda akan bepergian ke negara/tempat di mana hepatitis A adalah menjadi virus yang banyak menjangkit orang-orang di sana. Periksa pula penilaian kesehatan untuk restoran. Jangan lupa pula untuk selalu mencuci tangan sampai bersih sebelum memegang makanan.

8. Vibrio vulnificus: Kerang Mentah
Vibrio vulnificus adalah bakteri yang hidup di air laut hangat dan kerap kali mencemari kerang, khususnya kerang jenis tiram. Infeksi V. vulnificus menyebabkan gejala gastrointestinal yang sama dengan banyak penyakit bawaan makanan lainnya. Namun, pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah, infeksi ini dapat berkembang menjadi infeksi darah yang mengancam jiwa.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk tidak memakan kerang yang dimakan mentah dan selalu pastikan untuk memasak kerang hingga matang. Anda dapat menggoreng, memanggang, merebus, dan mengukus untuk mengurangi risiko infeksi. Jangan lupa, buang kerang yang tidak terbuka saat dimasak.

9. Keracunan Ciguatera: Ikan
Infeksi ini berkembang dari memakan ikan karang seperti kerapu atau kakap yang telah mengonsumsi beberapa jenis ganggang laut. Gejala biasanya akan timbul dalam waktu 6 jam setelah terpapar dan dapat mencakup:

  • Kesemutan, terbakar, atau rasa sakit di lengan atau kaki
  • Sakit kepala
  • Mual, muntah
  • Diare
  • Halusinasi
  • Berkurangnya kemampuan indera perasa (benda dingin terasa panas, benda panas terasa dingin)

Tidak ada obat untuk kasus keracunan ciguatera. Akan tetapi, meskipun dapat hilang setelah berhari-hari atau berminggu-minggu, gejala neurologis terkadang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

10. Listeria: Buah dan Sayuran Mentah
Bakteri Listeria menyebabkan infeksi yang dapat mempengaruhi seluruh tubuh dan menjadi sangat berbahaya bagi wanita hamil dan bayi baru lahir. Bakteri ini dapat mencemari produk segar, seperti buah-buahan dan sayuran, serta beberapa makanan olahan, seperti keju. Gejala-gejala infeksi dapat berupa demam, otot sakit, sakit perut, atau diare, yang biasanya muncul 4 hingga 10 hari setelah paparan.

Untuk menghindari, Bilas produk mentah dengan air dan keringkan sebelum dipotong. Simpan dalam lemari es dengan suhu di bawah 5 C. Pisahkan penyimpanan buah dan sayuran yang sudah dibersihkan dari buah dan sayuran yang masih belum dibersihkan. Hindari juga mengonsumsi keju lunak yang tidak dipasteurisasi.

Referensi:

https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/ss/slideshow-food-poisoning-dangers
Read More Penyakit

Musik dan Kesehatan Jantung

Apa lagu favorit Anda? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi. Sebab menurut Brian Harris, terapis musik neurologis bersertifikat di Rumah Sakit Rehabilitasi Spaulding yang berafiliasi dengan Harvard University Amerika Serikat, mendengarkan musik dapat membantu meningkatkan kesehatan dan suasana hati Anda.

Mendengarkan musik melibatkan banyak bagian otak, termasuk area yang bertugas untuk gerakan, bahasa, memori, konsentrasi dan emosi. Tidak ada stimulus lain yang secara bersamaan dapat melibatkan seluruh bagian otak, selain musik.

Penelitian tentang Manfaat Mendengarkan Musik

Secara mengejutkan, musik dapat mengubah kimia otak yang mendukung kesehatan jantung. Berdasarkan tes yang dilakukan oleh peneliti, manfaat mendengarkan musik bagi jantung adalah:

  • Memungkinkan seseorang berolahraga lebih lama selama tes tekanan jantung dilakukan pada sepeda treadmill
  • Memperbaiki fungsi pembuluh darah dengan mengendurkan otot saraf arteri
  • Membantu denyut jantung dan tingkat tekanan darah untuk kembali ke baseline lebih cepat, setelah beraktivitas fisik
  • Meredakan kecemasan pada korban serangan jantung
  • Membantu pasien yang baru sembuh dari operasi jantung, untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan

Musik Picu Kebahagiaan

Mendengarkan atau menciptakan musik dapat memicu rasa bahagia, karena melepaskan hormon senyawa otak berupa dopamin. Zat kimia otak ini membuat seseorang bersemangat dan termotivasi.

Pemrosesan indera pendengaran dimulai dari batang otak, yang sekaligus mengontrol laju detak jantung dan pernapasan. Hubungan inilah yang menjelaskan alasan musik berirama lambat dapat menurunkan detak jantung, laju pernapasan dan tekanan darah. Selain itu, musik yang lembut juga dapat meringankan rasa stres, nyeri, maupun cemas.

Musik Apa yang Cocok untuk Anda?

Bicara tentang musik favorit, tentu kembali pada selera masing-masing individu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa musik yang dipilih oleh pasien sendiri menunjukkan dampak yang lebih signifikan, daripada pilihan orang lain.

Menurut American Music Therapy Association, musik dapat “memancing” respons otak terhadap rasa aman dan kenyamanan dengan lingkungannya.

Dalam studi tes tekanan jantung yang dilakukan di universitas Texas, sebagian besar peserta tes berdarah Spanyol-Hispanik. Sehingga, para peneliti memilih musik dengan tempo cepat seperti musik Latin.

Sementara itu dalam studi relaksasi arteri, para peneliti menggunakan musik klasik dan musik rock. Ternyata, sebagian besar peserta lebih mampu mendengarkan musik klasik ketimbang musik rock yang hingar-bingar. Musik klasik lebih ramah telinga dan bisa didengarkan untuk memberikan efek ketenangan dan lebih menyenangkan.

Pada dasarnya, tidak ada ruginya bagi Anda untuk mencoba mendengarkan musik, baik untuk relaksasi atau menambah semangat dalam setiap rutinitas berolahraga. Asalkan, Anda menjaga volume musik agar tidak terlalu kencang, dan tetap kisaran yang normal.

Read More Penyakit

Kebiasaan Menyikat Gigi Bisa Cegah Sakit Jantung

Menyikat gigi tidak hanya berguna untuk membuat gigi bersih dan napas segar. Sebuah penelitian mengungkapkan menggosok gigi juga berdampak pada penurunan risiko terhadap serangan jantung. Seperti apa penelitian tersebut, dan bagaimana hasilnya?

Penelitian Libatkan 11.000 Responden

Riset yang bertajuk Scottish Health Survey di Skotlandia menganalisa data dari 11.000 responden. Peneliti mendalami rutinitas responden dalam hal pola hidup, termasuk yang berhubungan dengan merokok, berolahraga, dan kebersihan rongga mulut.

Terkait gigi dan gusi, peneliti menanyakan tentang pemeriksaan gigi yang dijalani responden. Apakah enam bulan sekali, satu hingga dua tahun sekali, atau malah tidak pernah? Peneliti juga mengumpulkan informasi mengenai insensitas responden dalam menyikat gigi. Responden disodorkan pilihan jawaban, mulai dari dua kali sehari, sekali sehari, atau kurang dari itu. Hasilnya, sebanyak 62 persen responden menyatakan rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali. Sementara itu, 71 persen responden mengatakan menyikat gigi dua kali sehari.

Hasil Riset Disilangkan dengan Penyebab Sakit Jantung

Para peneliti menyilangkan data tersebut dengan faktor penyebab penyakit kardiovaskular. Mulai dari obesitas, merokok, kelas sosial, hingga riwayat penyakit jantung pada keluarga. Hasilnya, orang yang jarang menyikat gigi, berisiko terkena serangan jantung 70 persen lebih tinggi dibandingkan yang rutin menggosok gigi dua kali sehari.

Lewat tes tambahan, orang-orang dengan tingkat kebersihan mulut rendah juga terbukti positif memiliki fibrinogen dan protein C-reaktif. Kondisi ini mengindikasikan adanya penyakit peradangan, seperti rematik dan lupus.

Masih Perlu Penelitian Lanjutan

“Hasil penelitian kami mengonfirmasi dan memperkuat penelitian sebelumnya, tentang hubungan antara kebersihan mulut dan risiko penyakit kardiovaskular,” kata Richard Watt, peneliti Scottish Health Survey dari University College London, Inggris. Sementara itu, dia melanjutkan, adanya tanda-tanda peradangan menunjukkan hubungan yang signifikan dari ketidakhigienisan mulut. Dari penelitian yang dimuat jurnal kesehatan BMJ ini, Watt mengatakan butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan adanya hubungan sebab akibat, antara kebersihan mulut dan penyakit kardiovaskular.

Sejumlah peneliti menduga korelasinya ada pada sistem imunitas tubuh. Malas menggosok gigi merupakan faktor utama pemicu periodontitis–dikenal juga dengan periodontal disease–yaitu infeksi gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Seseorang yang mengalami infeksi ini merasakan ngilu saat mengunyah, mengalami peradangan, dan gusi berdarah. Infeksi tersebut membuat sistem imun tubuh terus menerus bekerja. Beban kerja yang terus bertambah itu membuat tubuh rentan terhadap penyakit lain, termasuk kardiovaskular.

Karang Gigi Picu Banyak Penyakit

Plak yang menumpuk, menjadi karang gigi pada orang yang jarang menyikat gigi, juga bisa jadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Bakteri yang berkembang biak di plak menghasilkan zat asam. Sistem kekebalan tubuh meresponsnya sebagai zat asing yang harus dinetralisir. Membiarkan plak lama-lama bersarang di rongga mulut membuat sistem imun bekerja panjang. Ibarat mobil yang terus-menerus dipacu tanpa henti, pasti akan terjadi kerusakan. Serupa halnya dengan tubuh manusia. Sistem imun yang diforsir bekerja terus, bisa memicu peradangan dan penyakit.

Sembari menunggu penelitian untuk memastikan korelasi antara kebersihan mulut dan kesehatan jantung, kita bisa melakukan sesuatu yang pasti berguna, yaitu menyikat gigi minimal dua kali sehari.

Read More Penyakit

4 Cedera Sepak Bola yang Paling Sering Terjadi dan Cara Menanganinya

Bagi Anda para penggemar atau pemain sepakbola, pertandingan merupakan sebuah ajang yang kompetitif yang menampilkan beragam aksi serangan dan pertahanan. Namun, tidak bisa dipungkiri, bersama dengan sepak bola, akan ada kasus-kasus kecelakaan yang berujung pada cedera olahraga. Jangankan pemain sepak bola jalanan, para atlet profesional pun memiliki risiko yang juga cukup tinggi untuk kasus cedera.

Dari semua cedera dan kecelakaan olahraga yang terjadi, para pemain sepak bola biasanya paling banyak mengalami luka pada tubuh bagian bawah. Sebut saja bagian pinggul, selangkangan, paha, hamstring, lutut, betis, tulang kering, pergelangan kaki dan kaki. Penyebabnya pun sangat beragam, mulai dari saat berlari, menendang, mengubah arah, memutar, dan melompat. Selain itu, cedera juga dapat terjadi karena terlalu sering membebankan gerakan pada satu otot berulang kali, membenturkan atau menyakiti kembali bagian tubuh dengan riwayat cedera, ataupun karena melakukan kesalahan dan bertabrakan dengan lawan. Para pemain juga lebih berisiko mengalami cedera selama pertandingan kompetitif daripada selama sesi latihan. Berikut ini adalah ulasan mengenai daftar cedera sepak bola yang harus diwaspadai.

Pergelangan Kaki Terkilir
Saat bermain sepak bola, para pemain biasanya akan menghadapi permukaan yang tidak rata untuk berlari dan bergerak mengubah arah secara tiba-tiba. Kondisi inilah yang kerap menyebabkan pergelangan kaki terkilir. Kaki yang terkilir menandakan adanya kontraksi pada ligamen yang bekerja menstabilkan sendi pergelangan kaki menjadi terlalu kaku. Cedera ini dapat menyebabkan pergelangan kaki bergulung ke dalam atau ke arah luar.

Cedera Hamstring
Paha belakang terdiri dari tiga otot besar dan kuat yang menghasilkan kekuatan gerakan saat berlari. Saat bermain sepak bola, para pemain sering melakukan perubahan kecepatan dengan signifikan, berlari, berhenti total, kemudian kembali lagi berlari dengan kecepatan tinggi hanya dalam beberapa detik. Jika otot paha belakang Anda tidak memiliki elastisitas dan kekuatan yang cukup, mereka dapat mengalami kelebihan beban yang akhirnya menyebabkan cedera.

Untuk membantu mencegah cedera hamstring, pastikan untuk selalu melakukan peregangan sebelum memulai latihan. Anda juga dapat melakukan latihan pengondisian secara rutin sehingga menambah kekuatan dari otot-otot paha belakang. Jika terjadi kram atau kaku, gunakan foam roller untuk memijat dan meredakan nyeri.

Cedera Pangkal Paha
Ketika seorang pemain berada di lapangan, gerakan-gerakan menendang, memutar, atau melompat dapat berisiko melukai otot paha bagian dalam (juga dikenal sebagai adduktor), yang mengakibatkan cedera pada selangkangan. Untuk membantu mencegah cedera pangkal paha dari aktivitas olahraga sepak bola, pastikan untuk melakukan peregangan paha bagian dalam secara teratur. Selain itu, lakukan juga latihan penguatan, seperti adductor side bridges dan side lunges dalam latihan rutin Anda.

Cedera Cruciate Ligament Anterior (ACL)
ACL adalah jaringan ligamen penting yang bekerja menstabilkan gerakan kaki pada lutut. Sayangnya, bagian ini merupakan salah satu bagian yang paling sering mengalami cedera. Biasanya, cedera ACL terjadi saat kaki bawah berada dalam posisi diam, sementara kaki bagian atas melintir atau bergerak. Hal ini terjadi saat para pemain melakukan tekel atau saat mendarat dari lompatan. Cedera ACL dengan robekan ligamen yang menyeluruh kemungkinan besar akan membutuhkan tindakan operasi. Sementara itu, ACL yang terkilir dapat ditangani dengan fisioterapi dan rehabilitasi intensif.

Jika Anda mengalami cedera lutut dan masih terasa sakit dan bengkak setelah beberapa hari, segera lakukan pemeriksaan lanjutan dan penanganan fisioterapis. Dengan begitu, cedera yang Anda alami dapat diketahui tingkat keparahan dan cara penanganannya yang paling tepat.

Tips Menangani Cedera Sepak Bola
Ketika Anda memilih untuk aktif dalam kegiatan fisik seperti olahraga sepak bola, ada langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk dapat mengurangi risiko cedera. Berikut adalah tips untuk menjaga tubuh Anda tetap aman dan terlindungi saat bermain sepak bola.

1. Perkuat Anggota Tubuh Bagian Bawah
Sebelum mulai bermain atau berlatih di lapangan, lakukan latihan penguatan bagian tubuh bawah seperti calf raises, squat, lunges dan deadlifts. Latihan ini penting untuk memastikan otot-otot utama Anda cukup kuat dan siap untuk melakukan aktivitas berat dalam sebuah pertandingan sepak bola.

2. Lakukan Pemanasan
Hanya butuh beberapa menit untuk melakukan pemanasan dengan baik sebelum mulai masuk ke lapangan. Bermain sepak bola membutuhkan persiapan tubuh yang baik dengan peregangan dinamis (peregangan sambil menggerakkan tubuh seperti ayunan kaki dengan posisi lutut ke atas), selain beberapa set putaran jogging untuk meningkatkan aliran darah ke otot-otot tubuh. Tambahkan pula beberapa latihan dengan bola yang melibatkan beberapa gerakan perubahan arah dan perubahan kecepatan.

3. Lakukan Pendinginan
Meluangkan sedikit waktu setelah permainan untuk melakukan pendinginan juga akan membantu mengurangi risiko cedera. Anda dapat menggunakan waktu sekitar 10 menit untuk melakukan latihan kardiovaskular dengan intensitas rendah. Regangkan seluruh anggota tubuh bagian bawah Anda secara menyeluruh untuk menenangkan otot-otot yang baru saja bekerja keras.

4. Gunakan Perlengkapan yang Tepat
Lindungi tubuh Anda dengan memakai jenis pakaian yang tepat. Selain itu, gunakan pula sepatu bola dengan ukuran yang pas disertai pelindung tulang kering. Dengan begitu, risiko cedera dapat diminimalisir dengan baik.

5. Konsumsi Makanan Sehat
Selalu pastikan tubuh Anda terhidrasi dengan baik dan mengonsumsi makanan yang tepat akan membantu memenuhi energi tubuh untuk digunakan selama berolahraga dan dalam proses pemulihan setelahnya. Pahami aturan nutrisi sehat untuk para atlet untuk rincian menu yang dianjurkan.

6. Istirahat yang Cukup
Terakhir, pastikan untuk menjadwalkan waktu yang cukup untuk beristirahat di antara masa pelatihan dan pertandingan. Hal ini sangat penting agar dapat memberikan waktu pada tubuh untuk memulihkan diri. Jika Anda merasa sakit atau mengalami cedera ringan, pastikan untuk menambah waktu istirahat Anda. Lebih baik untuk melewatkan satu pertandingan daripada berakhir dengan cedera serius.

Read More Olahraga

Agar Selalu Sehat, 5 Cara Ini Dapat Membantu Menjauhkan Tubuh Dari Penyakit

Flu, batuk, dan pilek merupakan jenis-jenis penyakit yang mudah sekali untuk menular. Apalagi untuk Anda yang sering berada di tempat publik, seperti kendaraan umum misalnya. Tidak hanya itu, penyakit seperti diare dan cacar air juga mudah sekali untuk menyebar. Bahkan virus dan bakteri dapat dengan mudah tertular meskipun orang yang menularkan belum menunjukkan gejala.

Perlu dipahami, penyakit dapat menyebar dengan banyak cara. Mulai dari saat Anda menghirup kuman ketika seseorang berbicara, batuk, dan bersin, atau saat Anda menyentuh seseorang yang sedang sakit cacar air. Mengingat kuman, bakteri, dan virus ada di mana-mana, lakukanlah lima langkah mudah ini untuk membantu menjaga keluarga Anda terhindar dari infeksi penyakit.

Lakukan Imunisasi
Pahami pentingnya mencegah daripada mengobati. Itulah sebabnya, imunisasi merupakan hal penting yang harus Anda lakukan untuk mencegah beragam penyakit yang berisiko menyerang. Pastikan keluarga Anda mendapat informasi terbaru tentang vaksinasi yang dibutuhkan mereka.

Untuk anak-anak, ikuti arahan dokter dan puskesmas untuk pemberian imunisasi yang sudah ditentukan. Bagi orang dewasa, pastikan untuk segera mendapatkan vaksin booster tetanus/diphtheria/pertussis (yang juga disebut Tdap) jika mereka belum mendapatkannya. Selanjutnya, orang yang berusia di atas 60 tahun harus mendapat suntikan untuk mencegah sinanaga. Sementara, untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas harus mendapat dua suntikan pneumonia.

Anda juga perlu ingat bahwa vaksinasi dilakukan bukan sebagai bentuk peningkatan daya tahan tubuh saja, melainkan juga sebagai upaya mengurangi peluang bagi penyakit untuk menyebar.

Cuci Tangan
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyebut mencuci tangan sebagai “do-it-yourself vaccine.” Ini adalah salah satu langkah termudah yang dapat Anda lakukan untuk menghentikan berpindahnya kuman dan bakteri. Berikut ini adalah tata cara cuci tangan dengan tepat dan benar yang perlu Anda pahami

  • Basahi tangan Anda dengan air bersih dan mengalir (hangat atau dingin)
  • Gunakan sabun. Gosokkan kedua tangan Anda selama 20 detik
  • Bilas hingga bersih
  • Keringkan tangan Anda dengan handuk bersih atau biarkan mengering dengan sendirinya
  • Tidak ada sabun dan air mengalir? Gunakan pembersih tangan atau hand saniitizer dengan kandungan alkohol setidaknya 60%

Kapan harus mencuci tangan?

  • Sebelum, selama, dan setelah Anda menyiapkan makanan
  • Sebelum Anda makan
  • Sebelum dan sesudah Anda merawat orang yang sakit
  • Sebelum dan sesudah Anda merawat luka atau luka
  • Setelah Anda menggunakan kamar mandi
  • Setelah Anda mengganti popok anak
  • Setelah Anda menyeka hidung, batuk, atau bersin
  • Setelah Anda menyentuh binatang atau kotorannya
  • Setelah Anda memberi makan hewan peliharaan Anda
  • Setelah Anda menyentuh sampah

Bersihkan Benda yang Sering Disentuh
Tahukah Anda jika kuman dapat tahan berlama-lama pada benda dengan permukaan keras selama berjam-jam atau berhari-hari. Itulah mengapa penting untuk menjaga tempat-tempat seperti pegangan pintu, wastafel, dan keran tetap bersih. Dengan kata lain, pastikan untuk selalu membersihkan remote, pegangan pintu, sakelar lampu, bahkan layar ponsel Anda sesering mungkin.

Gunakan Masker Saat Berada Di Tempat Publik
Saat Anda sedang berada di stasiun, halte, atau di dalam kendaraan umum, pastikan untuk selalu menjaga diri dengan menggunakan masker. Cara ini penting untuk menghindari penularan kuman, bakteri, dan virus dari bersin dan batuk. Pastikan juga untuk selalu menghindari menutup mulut dengan telapak tangan saat bersin dan batuk untuk menghindari kuman berpindah dengan cepat. Anda dapat menggunakan tisu, sapu tangan, atau bagian siku lengan.

Jangan Berbagi Wadah Minum dan Sendok
Terakhir, pastikan untuk selalu menjaga perlengkapan makan dan minummu tetap bersih dan higienis dengan tidak berbagi wadah minum dan makan dengan siapa pun, bahkan dengan keluarga sekalipun. Selain itu, hindari pula menggunakan lip balm atau peralatan makeup bersama-sama. Ingat, salah satu cara tercepat untuk menyebarkan atau menularkan kuman dari orang ke orang adalah melalui mulut.

Itulah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menjauhkan tubuh dari penyakit. Meskipun begitu, bukan menjadi jaminan bahwa dengan melakukannya Anda tidak akan pernah sakit. Namun, yang pasti dengan melakukannya peluang Anda untuk tertular atau menularkan penyakit akan menurun.

Read More Penyakit